Senin, 22 September 2008

Painting with Light


light1
(asli bukan olah TKP. Objek : berdiri)

light2

(ambilkan bulan bu..)
  • Camera: Canon EOS 40D.
  • teknik pemotretan (pengaturan lensa, pencahayaan, dsb) : entahlah, ga tau pastinya,
  • alat bantu : lilin/senter,
  • ruang pemotretan : gelap cahaya..
(dalam ruang gelap cahaya, kita melukis suatu objek dengan menggunakan cahaya dari senter/lilin. kamera akan merekam lukisan cahaya itu dalam sekian detik pengaturan..)

limboto lake
(satu sore di tepi Danau Limboto)












(orang-orangan sawah)



(all of d photos taken by Mikah with his new camera)
(asli, tanpa efek photoshop, kecuali untuk memperkecil ukuran + nambah frame)

Kamis, 18 September 2008

Aku dan Mudik

hemm, lebaran sebentar lagi..
ngerasa ga sie, waktu serasa berjalan begitu cepat?!keknya baru kemarin mengawali puasa, eh ini dah hari ke 18 (bagi yang mengawali puasa tgl 1 Sept 08)

Persiapan hal-hal yang berbau fisik menjelang lebaran mungkin dah mulai terasa di tanggal-tanggal ini, terutama yang ada planning buat ngejahitin baju lebaran. Yakin deh, udah dari jaoh-jaoh hari ngantriin bahan di modiste! Malah mungkin udah sejakawal puasa..

bikin kue lebaran, mungkin minggu depan baru mulai kerasa gaungnya kecuali bagi mereka yang emang punya usaha parcell dan sejenisnya...

persiapan buat perantau, ya pasti mudik lah...

fur me, myself, tahun ini kalo ga salah itung, sudah mudik ke-8 sejak saya belajar merantau..

5 tahun pertama, berprofesi sebagai mahasiswi dan berposisi masih di Jurangmangu (seberang Bintaro.red) moda mudik & balik yang dipilih adalah bus, dengan alasan lebih ekonomis dan lebih deket dengan domisili dibanding moda kereta eksekutif/pesawat! Saya punya bus langganan R*M*Y*N*, karena udah langganan, mba petugas loketnya ampe apal deh... :P

Jauh hari sebelum hari keberangkatan (awal-awal puasa.red) saya biasa dah indent duluwan. Disamping bisa dipastikan dapet tempat duduk, kita juga bisa lebih leluasa memilih tempat duduk sesuai selera karena biasanya masih kosong. biasanya sie, kita cuma dikasih karcis pesen tempat duduk plus bayar administrasi skitar 10 ribu (pada waktu itu) sambil nungggu harga resmi edisi Lebaran yang dikeluarkan oleh armada stelah memperhitungkan tuslah.. untuk selanjutnya karcis asli baru diambil 1-2 hari sebelum berangkat.

Karena masih kuliah, biasanya libur tlah tiba berhari-hari sebelum puncak arus mudik; dan baliknya biasanya dah lewat masa kritis arus balik.. Lebak Bulus menjadi terminal pilihan karena lokasinya paling deket dengan Bintaro.

1 tahun berikutnya (2006), berprofesi sebagai pegawai magang (nunggu penempatan) dan berposisi di seputar Paseban, moda mudik beralih ke kereta api dengan satu alasan Gambir deket banget dengan tempat kedudukan.

Prosesi mendapatkan tiket kereta kurang lebih sama, antri lah di loket 30 hari sebelum keberangkatan. Waktu itu saya bersama Mba Iin, seorang temen kost berjuang di Gambir selepas subuh. Antrian pada waktu itu belum se - menggila seperti diberitakan pada tahun ini.. Meski antri dah di urutan belasan, Alhamdulillah masih dapet tiket!! Ntah apa yang menyebabkan antrian tiket th 2006 berbeda dg th 2008. Apa karena pemudik dengan moda kereta bertambah banyak yah?! atau??? entahlah..

Hal yang mengesankan dari mudik ini adalah ketika menyadari bahwa hanya tinggal kami berdua yang berada di kosn pada malam sbelum keberangkatan. Kami adalah penghuni terakhir di kosn!! hii... Mana kamar kami beda lantai lagi!! saya di kamar atas dan Mba Iin di kamar bawah. Malam itu kami memutuskan untuk tidur satu kamar untuk memenggal rasa ketakutan. Kejadian aneh? hanya mba Iin yang merasakan.. (apa saya yang bebal alias ga ngeh yah?!). dan kami pun ngacir meninggalkan kosn too early in the morning meski kereta berangkat baru sekitar pukul 8 pagi..

me&iin_251006

monas2006

(Sempat berpose sebelum berangkat. Tugu Monas terlihat jelas dari Sts. Gambir)

Dan akhirnya Kereta Taksaka Pagi, tanggal 21 Oct 2006, mengantarkan kami menuju kampung halaman . Meski kami ngantrinya bareng, tapi tempat duduk kami tidak bersebelahan karena waktu itu kami nulis formulir pesenannya ndiri2. Untungnya masih satu gerbong. Saya di kursi tunggal paling depan, mba Iin di kursi tunggal paling belakang. Yang jelas saya sungguh menikmati perjalanan karena ini adalah pengalaman pertama saya naik kereta pagi (katrok mode: on)

100_1137

100_1136

Tahun kemarin (2007) dan InsyaAllah tahun ini (2008) sudah pasti moda pesawat yang dipilih!! ga ada alternatif lain kecuali bersedia berlayar berhari-hari dengan menggunakan kapal laut dari pelabuhan GTO (:oh.. BIG :No)

ini nie Bandara Jalaluddin GTO

jalaluddin

Tahun 2007, ada dua maskapai yang melayani route penerbangan dari GTO ke sjumlah kota tempat tujuan mudik. Cuti bersama th 2007 jatuhnya mepets banget ma tgl 1 Syawal.. palagi ada Ormas Islam yang udah netapin hari raya jatuh sehari sebelum tgl merah di kalender.. duwh, bayangannya udah ga bisa ngerasain puasa di rumah deh...

Tiket mudik dah di issued sesuai tanggal yang direncanakan, langsung bayar cash PP, takut baliknya ga dapet tiket krn armada terbatas.. Tiket mnuju Jogja jg udah beress.. (pikir dalam hati) Eh tiba-tiba ada terbersit untuk mengajukan tgl mudik satu hari sebelumnya.. Nelfon agen, koq ya kebetulan ada seat di tgl dan kelas itu (padahal dah ngarep semoga dah ga ada seat shg niat nekat ini terterpis).. Yaudah deh, akhirnya maju.. Cm rada mikir juga sie, karena tiket ke Jogja dah ga bisa dimajuin satu hari karena seat udah penuh.. Tapi gpp stidaknya dah menginjak Pulau Jawa duluwan :)

Then sampai di Soe-Hatta, saya pun berjuang mendapatkan tiket maskapai yang berangkat hari itu juga ke Jogja. Berjalan menyusuri terminal 1A-1C bagaikan napak tilas jaman dulu (ups..) Hasilnya... jeng.. jeng.. jeng... dapet!!! Tiket Adam Air untuk penerbangan ke Jogja masih tersedia!! meski di kelas 'Yengki' dan di The Last Flight Out, (kek judul lagu) tp gapapalah... hari itu juga bisa sampe rumah..

Dan yang lebih mngejutkan lagi...
jeng.. jeng.. jeng... Bisa ketemu seorang temen bernama Zulkifli dari Pangkal Pinang di counter Adam Air. dari Izul saya tau kalo Bp dan Ibu Teguh juga baru ajah nyampe Jkt. Langsung mengambil telp bimbit, menelfon, dan ketemuan deh.. bersama Bp dan Ibu Leila kami satu DAMRI menuju Gambir.. (hemm, Leil,, udah hampir satu lebaran nie, terakhir ketemu..)

Dan,, untuk mudik tahun ini, ada satu maskapai yang membuka route baru GTO-JKT direct alias tidak transit Makassar. Lumayan, setidaknya menambah pilihan jam penerbangan dan sdikit menekan harga Duopoli Maskapai yang selama ini berkuasa di GTO..

Semoga mudik tahun ini selancar mudik-mudik sebelumnya.. Amien..
dari Gorontalo diucapkan : Selamat mempersiapkan mudik yaa...

Selasa, 16 September 2008

Pohon Cinta dalam Kenangan

Ini adalah Pohon Cinta

(entah kenapa di sebut Pohon Cinta padahal bentuk pohonnya bukan seperti bentuk hati)

Usut punya usut, ternyata lokasi tempat Pohon ini berada, ramai dikunjungi muda mudi tiap Malam Minggu.. (dah dapet Clue?!)

Dimanakah Pohon Cinta berada??

Pada tepi sebuah Pesisir Kota Marisa, Kabupaten Pohuwato Prov. Gorontalo

Kenapa Pohon ini Begitu Terkenal??

Ntahlah,, mungkin karena hal seperti tersebut di atas..

mungkin karena Pohon ini adalah salah satu icon Marisa (:oh) sebagaimana seorang sopir taksi menceritakan perihal pohon ini dalam perjalanan kali pertama kami menuju kota Marisa. (bingung!!! bayangan kami waktu itu, disebut pohon cinta karena salah satu bagian dari pohon ini ntah daun, bunga atau buahnya berbentuk hati)

Kabar terakhir dari Pohon Cinta

Tumbang terkena abrasi dan ditebang dari tempat semula dia berada dikarenakan di tempat tsb akan dibangun Ring Road...

Foto skitar 6 bulan yang lalu sebelum Pohon ini tumbang

PC2

(dari ki ke ka : Bu Agus, Pak Agus, Pak Indra, Om Fajar, Me)

Maksa:: serasa berjemur di Kuta (lokasi: samping Pohon Cinta)


Semoga ini membawa Kemajuan bagi Marisa :)


(postingan Ramutu)

Sabtu, 13 September 2008

Gorontalo Malam ini..

Sebuah perempatan tanpa lampu lalu lintas tampak ramai oleh lalu lalang abang bentor yang menganut prinsip slonong boy. Beberapa mobil dan sepeda motor non bentor juga melintas, menambah semrawut perempatan itu..

Dua orang Pak Polisi Lalu Lintas yang bertugas pada malam ini nampak sibuk mengatur lalu lintas supaya lebih tertib. Dengan rompi berwana hijau kekuningan lengkap dengan efek fluorescence, beberapa kali melambaikan tangan mencoba mengatasi keriuhan lalu lintas. Hemm, (semoga) sebuah pengabdian kepada negara...

Langit Gorontalo tampak cerah. Rembulan tanggal 14 bersinar terang dengan goresan awan putih tipis menghiasi langit di atas Kota Milu ini..

Seorang penjual sate sibuk mengibas-ibaskan kipas, mengipasi tusukan daging ayam berlumur bumbu kacang yang terpanggang di atas bara api. Sedikit demi sedikit warnanya berubah menjadi kecoklatan.

Di sebelahnya, dua penjual minuman hangat ala STMJ yang lebih dikenal dengan minuman Saraba sedang berbincang, menunggu pembeli datang..

Sebelah penjual saraba, tampak penjual martabak, sigap melayani orang yang bertandang ke angkringannya. Ntah apa yang sedang dibuatnya, martabak telur atau terang bulang (cocok dengan bulan di malam ini)..

Di depan sebuah kantor pelayanan, di pojok sebuah perempatan, aku duduk memperhatikan sambil menunggu sate pesananku purna disajikan.

Sebentar kemudian, dua Pak Polisi datang menghampiri penjual sate, memesan menu dan secangkir saraba. Mungkin sekedar mengusir penat setelah sekian lama berdiri menunaikan tugas..

Aku pulang diantar abang bentor dengan membawa bungkusan sate lengkap dengan lontongnya..

Gorontalo, hampir satu jam yang lalu..

Dalam sebuah Perjalanan

Kereta Sancaka perlahan meninggalkan Stasiun Gubeng. Kuhempaskan tubuhku di salah satu kursi pada salah satu gerbong eksekutif. Kereta lumayan penuh. Mungkin karena hari itu adalah weekend. Sempat berjejal diantara penumpang untuk meraih pintu masuk gerbong. Sempat said 'excuse me' pada seorang foreign yang berpapasan di mulut gang antar gerbong karena aku salah masuk gerbong. Sempat minta bantuan seorang porter untuk mengangkut barang bawaan.. Dan aku pun akhirnya menghela nafas lega setelah sadar 100% bahwa aku telah duduk di kursi kereta setelah skian jam berkejaran dengan waktu.

Yah, siang itu aku baru saja menyelesaikan sebuah tes untuk mengukur kemampuan dalam berbahasa asing. Test setelah selama lebih kurang sepuluh hari aku dilatih untuk menggunakan bahasa dari negeri Prince William dalam menceritakan sesuatu. Sebuah kursus singkat yang dihadiahkan oleh intansiku setelah aku dinyatakan lolos seleksi. (instansiku, terimakasih atas kesempatan ini...)

Lepas tengah hari tes itu pun usai. Aku tahu, Sancaka masih bisa terkejar. Namun deret rencana yang telah aku susun sebelumnya, membuat aku merasa tidak yakin bahwa aku bisa pulang dengan kereta itu. Jurus nekat aku gunakan. Dari tempat test, kembali ke hotel, mengambil paketan barang kemudian melaju menuju tempat eskpedisi barang. Sempat senewen karena jalanan di Kota Pahlawan ini macet. Menurut sopir taksi yang aku tumpangi, malam nanti adalah puncak peringatan skian ratus tahun kota ini berdiri.. Hufh, sabar, sembari terus melirik ke arah jarum jam tangan pemberian salah seorang teman di Banteng. (trimakasih, Mba Dev..)

Hanya sekian menit di kantor ekspedisi, taksiku kembali melaju ke sebuah pusat penjualan barang elektronik. Tujuanku hanya satu, mencari eksternal driver sebagai tempat cadangan penyimpanan data mengingat spec. memory di komputer jinjingku terbatas.

Selesai dengan semuanya, bergegas aku menuju Gubeng, berharap masih mendapatkan Sancaka. Alhamdulillah, tiket itu masih tersedia dan waktu masih memungkinkan untuk sekedar mengambil barang di hotel (tidak lebih dari 30 menit sebelum jadwal pemberangkatan kereta). Sedikit berlari menyusuri jalan menuju hotel, berganti baju, mengambil barang dan meminta bantuan sopir taksi untuk mengantar ke stasiun, yang sebenarnya jaraknya hanya sejengkal dari hotel. Urusan check out aku serahkan pada teman sekamar..

Aku duduk di salah satu gerbong Sancaka. Sebelahku adalah seorang pria berusia skitar 30-an sedang bernegosiasi dengan orang yang duduk di kursi sederet. Sekelumit pembicaraan yang aku tangkap adalah : tukar tempat duduk.
Tidak terlalu memperhatikan dan terus menatap ke luar jendela, kereta melintas di belakang hotel yang dalam beberapa hari kemarin aku singgahi. Tampak seorang Janitor sedang membersihkan kaca jendela hotel. Earphone telah terpasang di kedua telingaku, ntah lagu apa yang sedang dimainkan, dan ditanganku sebuah novel terbuka, siap untuk dibaca, menemani skian jam perjalanan menuju kota tercinta.

Akhirnya orang di sebelahku berpindah. Negosiasi ternyata berhasil. Now, seorang pria muda, masih berumur sekitar 30-an dengan tas ransel duduk disebelahku. Perhatianku tertuju pada novel yang dia bawa. Warna sampul novel adalah kolaborasi antara wana hitam, putih dan pink keunguan, dengan font judul dan background gambar yang sangat familiar banget dimataku, langsung mengingatkanku pada cerita dari Negeri Belitong. Ugh,, ternyata kami pernah membaca novel yang sama..

Gaya cuek sebagaimana aku biasa bersikap di dalam semua moda yang membawaku pada setiap perjalanan akhirnya luluh ketika Bapak itu mulai menyapa. (masih terlalu muda untuk dipanggil bapak). Percakapan klise di dalam moda seperti dari mana mau kemana pun terucap. Sepatah, dua patah kata mengalir, ntah mengapa aku merasa nyaman dan nyambung ngobrol dengannya. Sesuatu yang jarang terjadi dalam sekian kali aku menempuh perjalanan. Biasanya aku lebih memilih sibuk dengan novelku atau hanyut bersama alunan untaian nada dari perangkat playerku.

Salah satu bagian percakapan yang aku ingat adalah ketika Bliau menanyakan : "masih ada lagi kejutan buat saya?!" setelah sebelumnya Bliau mendengarkan pemaparan sepotong-sepotongku, bahwa aku di Kota Rujak Cingur ini dalam rangka kursus, menuju Kota Geplak untuk pulang kampung, sementara aku bertugas nun jauh di Kota Milu dan dahulu menempuh bangku kuliah di Kota Metropolitan.

Hemm, ternyata beliau adalah seorang dokter bedah, sedang mengambil spesialis bedah syaraf di rumah sakit pemerintah terbesar di ibu kota Provinsi Jawa Timur. Entah apa yang mendorongnya untuk mengajakku bercakap-cakap dengan Bahasa dari negeri asal Ratu Elizabeth, padahal dari tampang dan perawakan, aku bukanlah seorang indo. Akhirnya aku pun bercerita atas test yang baru saja aku tempuh dan sdikit mendiskusikan tentang permasalahan yang di hadapi oleh sebahagian anak negeri ini dengan bahasa asing dan bagaimana cara membudayakan penggunaan bahasa asing di negeri sendiri. Sedikit Bliau menyitir tips belajar bahasa asing ala Lintang, seorang tokoh dalam novel yang Beliau bawa.

Topik pun beralih ke seputar pekerjaan, salah satu hal yang biasa membuatku dilema antara menjawab secara rinci atau general dalam percakapan dengan orang disebelahku pada setiap perjalanan. Tapi aku pun akhirnya mengaku setelah sebelumnya beliau menebak aku bekerja pada departemen yang sama dengan beliau.. (apa tampangku mirip suster ngesot ya)

Selanjutnya, aku lebih banyak diam, tidur, bercerita lagi, membahas film, buku, hingga sampailah perjalanan di Stasiun Balapan. Pak Dokter turun di stasiun ini untuk mengunjungi keluarganya. Sementara perjalananku masih satu jam lagi menuju stasiun terakhir dari route perjalanan kereta ini..

Sebentar kemudian telepon bimbitku bergetar. Sms masuk dari Bapak: "Nduk, Bapak wes neng Tugu.." Oh,,,, serasa sudah sampai di rumah...

(Buat pak dokter, maaf pertemuan singkat dengan Anda saya tulis dalam blog ini, sekedar mengingat atas perbincangan di dalam perjalanan itu,,)